LOMBOK TENGAH (kabarkota.com) – Sebelum ludes terbakar pada 22 Agustus 2026, Desa Adat Sade di Rambitan, Pujut, Lombok Tengah, NTBLombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah salah satu pemukiman Suku Sasak yang masih mempertahankan keaslian budaya, tradisi, dan arsitektur leluhur mereka.
Enam bulan sebelum terjadinya musibah kebakaran tersebut atau tepatnya bulan Februari 2026 lalu, kabarkota.com sempat berkunjung ke Desa yang dihuni sekitar 250 Kepala Keluarga (KK) tersebut untuk melihat keunikan adat istiadat, tradisi kehidupan, serta tarian dan kesenian khasnya.

1. Tari Gendang Beleq
Ketika memasuki gerbang Desa Adat Sade, kami disambut dengan Tari Gendang Baleg, sebuah tarian kolosal yang dimainkan oleh penari sambil memukul drum kayu besar (Gendang Beleq). Tarian ini juga diiringi dengan instumen lain, seperti gending, gong, dan seruling.
Pemandu Wisata Desa Adat Sade, Thalib mengatakan, tarian ini dulu dipentaskan untuk melepas dan menyambut prajurit perang. Namun sekarang, tarian ini ditampilkan untuk menyambut tamu kehormatan dan pesta adat.
2. Tari Peresean (Tarung Perisai)
Selanjutnya, kami juga disuguhi Tari Peserean (Tarung Perisan). Dalam tarian ini, dua pria bertarung (pepadu) dengan menggunakan rotan (penyencek), dan perisai dari kulit sapi/kerbau (ende), serta dipimpin oleh seorang wasit (Pekatik).
Tarian ini, kata Thalib, melambangkan kejantanan, persaudaraan, dan keberanian. Awalnya, ritual ini digunakan sebagai sarana memohon hujan.
3. Bale Tani dan Lumbung
Kelunikan lain dari Desa Adat Sade adalah arsitektur bangunannya yang masih tradisional, berbentuk Bale Tani dan Lumbung.
Tholib mengatakan, dinding rumah warga Sade terbuat dari anyaman bambu, den beratap alang-alang. Sedangkan tiangnya menggunakan kayu tanpa paku besi. Rumah ini akan diwariskan untuk anak bungsu dari masing-masing keluarga. Sedangkan anak sulung, harus keluar dari desa tersebut setelah menikah.
Ukuran pintu juga dibuat rendah dengan tujuan agar setiap orang yang masuk menunduk sebagai bentuk penghormatan kepada tuan rumah.
4. Tradisi “Ngepel Bale”
Thalib mengungkapkan, warga di desa ini juga mempunyai kebiasaan Ngepel bale atau membersihkan lantai mereka dengan kotoran sapi atau kerbau. Ini biasanya dilakukan secara berkala.
Caranya, mereka melapisi lantai dengan kotoran sapi atau kerbau yang masih segara dengan dicampur sedikit air dan abu. Setelah kering, lapisan tersebut dibersihkan dan lantai pun terlihat lebih bersih dan mengkilap.
Selain itu, warga percaya bahwa cara tersebut, selain membuat lantai bersih juga bisa mengusir nyamuk dan penolak bala.
5. Tradisi Merariq (Kawin Lari)
Lebih lanjut Thalib menjelaskan bahwa di Desa Adat Sade juga ada tradisi merariq atau kawin lari. Bagi masyarakat di sini, ketika seorang anak gadis dilamar justru menjadi hal yang memalukan.
Merariq ini merupakan bagian dari prosesi pernikahan Suku Sasak di Sade. Seorang pria akan membawa lari gadis yang ingin dinikahinya selama beberapa hari, tanpa sepengetahuan orang orang tua gadis. Kemudian, pihak keluarga pria mengirimkan utusan ke keluarga wanita agar memberitahukan bahwa putri mereka telah dilarikan secara terhormat untuk dinikahi.
Di tengah pemukiman Desa Sade juga terdapat sebatang “pohon cinta” yang menjadi tempat pertemuan sepasang kekasih, sebelum mereka menikah.
6. Wanita Sasak Pandai Menenun
Para wanita di Desa Adat Sade umumnya memiliki keahlian menenun kain tenun ikat/sungkat, dengan pewarna alami
Menurut Thalib, ketika seorang wanita Sasak belum bisa menenun, maka dia belum diperbolehkan untuk menikah.
Di sini, wisatawan bisa membeli berbagai hasil karya tenun mereka. Mulai dari kain hingga pernak-pernik aksesoris dengan harga yang cukup terjangkau. (Rep-01)







