Di Tengah Wabah Corona, K@MU Kampanye aksi 16-an digital

Kampanye aksi 16-an digital (dok. fb tri wahyu kh)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Di tengah wabah Coronavirus Desease 2019 (Covid-19l, Koalisi Masyarakat untuk Udin (K@MU) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta tetap melakukan aksi 16-an untuk Jurnalis Harian Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin yang dibunuh karena berita, pada era Orde Baru.

Namun berbeda dari aksi sebelumnya yang digelar di depan halaman Gedung Agung Yogyakarta, kali ini, kampanye aksi 16-an dilakukan melalui platform digital.

Koordinator K@MU, Tri Wahyu KH berpandangan bahwa setiap orang harus memiliki akses informasi yang bisa diandalkan dan berita yang independen

“Jurnalis di seluruh dunia seharusnya bekerja di lingkungan yang aman, bebas dari kekerasan, dan bebas dari sensor,” kata Wahyu dalam siaran pers yang diterima Kabarkota.com, Kamis (16/4/2020).

Baca Juga:  Polda DIY akan Bagikan Seribu Helm Gratis untuk Anak, Masyarakat Antusias

Namun, Jurnalis Udin justru dibunuh karena menulis tentang korupsi saat rezim Orde Baru berkuasa. Menurutnya, Selama 24 tahun kasusnya masih gelap, dan tidak ada upaya serius dari pemerintah Indonesia untuk mengadili pembunuhnya. Padahal, kejahatan terhadap jurnalis adalah serangan terbesar bagi kebebasan pers dan akses informasi. Mengingat, jurnalis mempunyai peran sebagai pengawas kekuasaan, mengungkap kejahatan, dan ketidakadilan.

Sementara Ketua AJI Yogyakarta, Shinta Maharani menyebutkan, pembunuhan Udin adalah satu dari deretan kasus pembunuhan jurnalis di Indonesia yang tidak dituntaskan oleh pengadilan. Di dunia, UNESCO mencatat hampir 90 persen dari yang bertanggung jawab atas pembunuhan jurnalis belum dihukum. Ada 1.109 jurnalis yang dibunuh di dunia sejak 2006 hingga 2018.

“Pembunuhan jurnalis tidak bisa dibiarkan. Semua orang perlu berdiri untuk mengakhiri impunitas atau penghentian penyelesaian kejahatan terhadap jurnalis,” tegasnya.

Baca Juga:  Jelang Idul Adha, PP Muhammadiyah Terbitkan Tuntunan Ibadah Kurban di Tengah Pandemi Covid-19

Shinta berharap, masyarakat turut mendukung jurnalis di seluruh dunia, dengan mengutuk segala tindakan kekerasan.

“Pemerintah Indonesia seharusnya bertanggung jawab dan berbuat banyak dengan memberikan jaminan hukum.Tidak bisa dibiarkan pejabat negara membenarkan kekerasan,” imbuhnya.

Untuk itu, K@MU dan AJI Yogyakarta terus mengajak masyarakat sipil bergerak bersama, membangun koalisi yang lebih kuat untuk menolak impunitas atas kejahatan terhadap jurnalis.

“Kami melibatkan seniman Anti Tank, Andrew Lumban Gaol dalam koalisi. Poster bergambar Udin yang menyebar di berbagai penjuru dan muncul di kaus adalah karya Anti Tank,” ungkap Shinta.

Lebih lanjut pihaknya menjelaskan, kampanye aksi 16-an digital adalah salah satu gerakan bersama yang melibatkan masyarakat sipil dari berbagai lembaga dan individu. Kampanye digital ini didesain oleh seniman Anang Saptoto yang merupakan bagian dari K@MU.

Baca Juga:  Peringati 21 Tahun Kematian Wartawan Udin, K@MU Desak Jokowi Bentuk Tim Gabungan Pencari Fakta

“Kami telah menerima 80 foto yang disertai dengan kalimat desakan penuntasan kasus pembunuhan Udin dan dukungan terhadap kerja-kerja jurnalis yang mengungkap kebenaran,” paparnya.

Anang, lanjut Shinta, telah mengumpulkan seluruh foto dan membuat video sebagai bentuk kampanye digital menolak impunitas terhadap pembunuhan jurnalis Udin. Foto dan video ini kemudian diunggah tepat pada tanggal 16.

Sebelumnya, K@MU dan AJI Yogyakarta pada tanggal 16 setiap bulannya menggelar aksi tutup mulut di depan Gedung Agung Yogyakarta, menolak impunitas pembunuhan Udin. Tanggal 16 menjadi pengingat kejahatan terhadap Udin. Jurnalis berusia 32 tahun ini dibunuh pada tanggal 16 Agustus 1996.

“Terima kasih untuk semua yang telah berpartisipasi dalam kampanye digital aksi 16-an Udin. Kebebasan pers dan demokrasi perlu terus diperjuangkan,” ucapnya. (Ed-01)