Dosen Asing di Indonesia, Menristekdikti: Lebih Banyak, Lebih Baik

Menristekdikti, Mohamad Nasir (sutriyati/kabarkota.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir menganggap, meskipun kuota dosen asing di Indonesia 10 persen, namun jika jumlahnya lebih banyak dari itu, maka akan lebih baik.

Hal itu disampaikan Nasir kepada wartawan di Yogyakarta, Selasa (26/4/2016). “Kalau kami membatasi 10 persen itu kan karena masalah anggaran. Kalau bisa lebih banyak lagi, kami akan lebih senang karena Perguruan Tinggi (PT) harus masuk kelas dunia. Kalau tidak, kita tidak akan melakukan perubahan yang baik,” kata Nasir.

Baca Juga:  UGM Buka Rekrutmen Guru Penggerak Daerah Terpencil di Papua

Terkait distribusi, menurut Menristekdikti, akan dimulai dari enam Perguruan Tinggi Berbadan Hukum, yakni USU (sumatera), IPB, ITB, UI dan UPI (Jabar), UGM (Yogyakarta), serta UNAIR (Jatim)

“10 persen dari dosen yang ada di PT itu, paling tidak harus 10 dosen di luar kampus, yang 10 persen itu adalah dosen asing. Misalnya, UGM punya dosen tetap 1.000, yang di luar 200. Nah 10 persen dari 200 orang itu adalah dosen asing,” jelasnya.

Baca Juga:  Revisi UU KPK = Membunuh KPK

Para profesor dari luar negeri itu nantinya akan dikonsentrasikan pada Riset di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknik. (Rep-03/Ed-03)