Fenomena Api Misterius di Seyegan belum Masuk Kajian Risiko Bencana

api misterius di seyegan
Pemilik rumah, Mutfiana menunjukkan api misterius yang membakar kain. (dok. kabarkota.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman mengatakan, kajadian api misterius yang membakar sebuah rumah warga di Padukuhan Kasuran, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan merupakan fenomena baru yang belum masuk dalam kajian risiko bencana di Sleman.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah
Kabupaten Sleman, Makwan saat mengadakan pertemuan dengan sejumlah tim ahli dari berbagai instansi yang melakukan kajian observasi untuk menyelidiki fenomena tersebut, di Kapanewon Seyegan, baru-baru ini.

Read More

“Saat ini terdapat 12 ancaman bencana di Sleman, namun kejadian api misterius di Seyegan ini belum termasuk di dalamnya,” kata mantan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman ini.

Untuk itu, pihaknya berharap, hasil observasi dan penelitian lintas instansi ini bisa disinkronkan dengan data di lapangan, guna menentukan langkah pengurangan risiko kedaruratan di wilayah pemukiman tersebut.

Terkait tanggap darurat khusus, Makwan mengaku, sedang memikirkan hal tersebut supaya bisa mengakses ke BPBD. Termasuk pendanaannya.

Meski demikian, Makwan menekankan agar ada solusi di tengah situasi darurat saat ini.

“Kami juga memastikan keamanan dan keselamatan keluarga Bu Mutfiana (pemilik rumah), seperti pemberian dukungan logistik berupa lima unit Alat Pemadam Api Ringan yang telah diisi ulang sebagai bentuk kesiapsiagaan,” sambungnya.

Sementara itu, pemilik rumah, Mutfiana menyebut, setidaknya terjadi lebih dari 100 kali kemunculan titik api, sejak rumahnya terbakar pada 23 Mei lalu hingga lebih dari 2 minggu belum juga padam.

“Sejauh ini yang terbakar ada buku, kardus, kain, sofa, spring bed, dan beberapa tumpukan kayu,” ungkap Mutfiana kepada wartawan, saat ditemui di rumahnya.

Akibat musibah tersebut, Mutfiana memperkirakan, kerugian materiil yang dialami tak kurang dari Rp 70 juta. Itu belum termasuk kerugian dari usaha pemotongan ayam yang menurun drastis, sejak kejadian ini.

Ia dan keluarganya juga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, tak jauh dari rumahnya.

Disinggung soal kemungkinan relokasi, Mutfiana mengatakan bahwa ia dan keluarganya tidak keberatan untuk direlokasi, asalkan lokasinya tidak jauh dari rumahnya.

“Untuk relokasi, kami mungkin ke ruko karena kalau ke tempat lain, kami harus memulai usaha dari nol lagi,” ucapnya.

Lebih lanjut, Mutfiana menyatakan bahwa pihaknya tidak keberatan, jika rumahnya menjadi objek penelitian lebih lanjut bagi para ahli. Sekaligus untuk menjawab berbagai pertanyaan publik tentang kekhawatiran kejadian itu akan meluas.

Sebab Pasti Kemunculan Api masih Diteliti

Di lain pihak, penyebab pasti kemunculan api di Seyegan ini masih diteliti oleh sejumlah tim ahli dari berbagai lembaga, termasuk akademisi.

api misterius di seyegan
Pertemuan Pemkab Sleman dengan sejumlah Tim Ahli lintas Lembaga yang meneliti api misterius di Seyegan. (dok. kabarkota.com)

Hasil penelitian sementara menunjukkan bahwa penyebab kemunculan api adalah gas. Namun jenis gasnya belum dapat dipastikan, karena masing-masing tim ahli memaparkan hasil yang berbeda.

DanDen Gegana Satbrimob Polda DIY, Kompol Edi Efiyanto memaparkan, berdasarkan hasil penelusurannya, kemungkinan gas metana berasal dari septic tank yang selama belasan tahun tertutup tanpa ventilasi. Hanya saja, setelah septic tank dibersihkan, titik api masih tetap muncul.

“Jadi menurut hasil dari alat kami… masih terdeteksi gas metana. Tetapi, gas ini munculnya di mana, kami tidak pernah tahu,” paparnya.

Sedangkan Dosen Departemen Teknik Geologi UGM, Sarju Winardi memaparkan, dari hasil tiga kali observasi dengan tim dan yang berbeda, serta di waktu yang tidak sama, terkonfirmasi bahwa api itu berasal dari gas hidrogen yang kemungkinan berasal dari fermentasi limbah organik kotoran ayam. Selain itu juga ada kemungkinan gas fosfin yang memicu pembakaran di suhu ruangan.

Sarju juga menyatakan, tim UGM akan membantu melakukan solusi untuk mengurangi, menekan bakteri Clostridium. “Bakteri Clostridium adalah bakteri yang bertanggung jawab mengubah material organik menjadi gas hidrogen,” jelasnya.

Hal ini akan dilakukan dengan penjenuhan cairan basa, melalui penyuntikkan air kapur di lantai atau di tanah.

Lain halnya dengan Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN Veteran Yogyakarta, Basuki Rahmad yang justru melakukan investigasi untuk mencari sumber pemicu api, dengan menelusuri Sungai Nepen yang jaraknya sekitar 300 meter dari rumah terdampak.

Dari penelusurannya, Basuki bersama tim menemukan singkapan bebatuan lanau yang tergenang air, dan saat disisir perlahan, terindikasi gelembung-gelembung gas metana CH4) di bawah Jembatan nepen.

Jadi, berdasarkan investigasi awal, sumber gas diduga kuat adalah gas metana dari bebatuan gelap yang terletak di bekas rawa. (Rep-01)

Related posts