YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) sepakat bahwa Idul Adha bukan sekadar ritual keagamaan tahunan, melainkan momentum membangun ketakwaan, pengorbanan, dan kepedulian sosial untuk kehidupan yang lebih baik.
Ketua Umum (Ketum) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir berpendapat bahwa hakikat utama dari ibadah tersebut adalah membentuk spiritualitas takwa dalam kehidupan nyata.
Haedar bependapat bahwa keteladanan Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail menjadi simbol pengorbanan dan kepasrahan total kepada Allah SWT. Ketiganya dinilai berhasil menunjukkan spiritualitas takwa yang melampaui kepentingan pribadi dan duniawi.
“Ketiganya memberi contoh bagaimana jiwa bertakwa telah membebaskan diri mereka dari belenggu diri dan duniawi, untuk menjadi insan yang saleh, dengan memberi kemanfaatan dan kebajikan terbaik bagi sesama dan dunia,” katanya dalam pesan Idul Adha 1447 H, melalui youtube Muhammadiyah Channel, pada 26 Mei 2026.
Menurutnya, spiritualitas takwa seharusnya tercermin dalam kehidupan sehari-hari, baik di masyarakat maupun di kalangan penguasa.
“Insan berspiritualitas takwa tidak akan korupsi atau pun melakukan segala bentuk penyimpangan, menyalahgunakan kekuasaan, mengakali sistem yang sudah baik, merusak alam dan lingkungan demi keuntungan yang berlebihan,” tegasnya.
Haedar juga menyoroti tantangan generasi muda di era modern, seperti sekarang. “Idul Adha menjadi momentum membentuk karakter generasi milenial, generasi Z, dan alfa agar memiliki etos kerja, semangat belajar, serta akhlak yang baik,” sambungnya.
Selain itu, Haedar juga menyoroti tentang bahaya ketamakan sosial di tengah masih lebarnya kesenjangan ekonomi, praktik korupsi, dan budaya aji mumpung yang bersumber dari hilangnya ketakwaan.
Sementara itu, Ketum Pengurus Besar NU (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya berpesan bahwa Idul Adha merupakan momentum memperteguh iman dan kesetiaan kepada Allah SWT. Sekaligus, kesiapan berjuang demi masa depan peradaban yang lebih baik.
“Idul Adha atau ibadah kurban adalah hikmah tentang keteguhan iman dan kesetiaan yang mutlak kepada Al-Khaliq Allah SWT,” kata Gus Yahya sebagaimana dikutip dari laman nu-online.
Gus Yahya juga berpandangan bahwa semangat kurban tidak berhenti pada penyembelihan hewan saja, melainkan mengandung makna perjuangan dan kerja keras dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Oleh karena itu pihaknya mengimbau agar umat Islam menjadikan Idul Adha sebagai momentum memperkuat tekad dan pengorbanan agar menjadi manusia yang lebih mulia. (Ed-01)







