YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Wakil Menteri (Wamen) Perumahan dan Kawasan Permukiman RI, Fahri Hamzah mengunjungi Kampung Lampion di Bantaran Sungai Code, Kotabaru Yogyakarta, pada Jumat (29/5/2026).
Fahri menilai, pembangunan di bantaran sungai tersebut merupakan bentuk kepeloporan dari Yogyakarta yang selayaknya ditiru secara masif oleh daerah-daerah lain di Indonesia. Mengingat, Indonesia termasuk negara yang penduduknya banyak memanfaatkan tanah di tepian sungai maupun pantai untuk pemukiman. Terlebih,
“Ada sekitar 12.879 wilayah pesisir di Indonesia perlu diperbaiki dengan model-model bangunan yang bisa mengantisipasi dinamika sungai, seperti banjir dan sebagainya,” ungkap Fahri kepada wartawan di sela-sela kunjungannya.
Lebih lanjut Wamen juga berharap, penataan di pinggiran sungai Code ini bisa menjadi contoh normalisasi sungai ke depan.
“Usul saya, semua rumah itu konsepnya kembali ke rumah panggung, sebagaimana rumah awal orang Indonesia,” tegasnya.
Menurutnya, dengan rumah panggung itu, satu lantai bisa dimanfaatkan sebagai ruang publik (public space), seperti tempat pertemuan, area bermain anak, maupun kegiatan-kegiatan lainnya. Sedangkan satu lantai di atasnya digunakan sebagai tempat tinggal warga.
Pada kesempatan ini, Fahri pun memaparkan bawa pada tahun 2045 mendatang, sekitar 80 persen orang Indonesia akan tinggal di kota sehingga ini menjadi problem, terutama dalam hal ketersediaan lahan untuk pemukiman.
Oleh karena itu, sambung Fahri, perlu ada inovasi dari pemerintah guna mengantisipasi permasalahan tersebut. Salah satunya, melalui pembangunan hunian vertikal.
“Itulah konsep dari rumah panggung dulu, karena rumah panggung itu sebenarnya rumah vertikal,” jelasnya. Selain untuk mengatasi permasalahan keterbatasan lahan di kota, konsep rumah panggung juga bisa untuk mengantisipasi banjir dan menghindari binatang buas.
Pemkot Yogya Realisasikan Program Pembangunan Mundur Munggah Madep Kali Melalui Bedah Rumah
Sementara itu Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menyampaikan bahwa setidaknya masih ada empat tiitk pembangunan di sepanjang Sungai Code yang harus diselesaikan supaya jalan di tepian sungai tersebut saling terhubung sebagai jalan inspeksi sungai. Sekaligus, mempermudah akses, ketika misalnya terjadi kebakaran atau bencana lainnya.
“Harapannya, Sungai Code ini bisa menjadi percontohan dalam penataan sungai-sungai di tengah kota yang lain,” ucap Hasto dalam sambutanya. Sebab, masalah yang dihadapi hampir sama, yakni problem banjir dan sampah.
“Kami berharap nanti akan mendapatkan dukungan dari Wamen untuk masalah perumahan di Kota Yogyakarta,” tutur mantan Bupati Kulon Progo ini.
Terkait program Mundur Munggah Madep Kali di tepi sungai Code, Winongo dan Gajah Wong, Hasto mengaku, selama ini Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta telah merealisasikan program Bedah Rumah, tanpa APBD maupun APBN, melainkan kumpulan sodaqoh dari orang-orang.
“Maka, kami selesaikan itu dengan program gotong royong, tanpa APBD maupun APBN, dengan paket 20 juta,” sebutmya. Sejak dirinya menjabat Walikota hingga akhir tahun 2025, sekitar 82 rumah telah selesai dikerjakan secara gotong-royong.
“Kami juga sedang membangun dua rumah percontohan yang betul-betul dari olah sampah. Jadi gentengnya dan dindingnya dari hasil olahan sampah,” kata Hasto. (Rep-01)







