BANTUL (kabarkota.com) – Gelak tawa dan riuh suara anak-anak memecah kesunyian, di pelataran rumah salah satu warga Padukuhan Jetis, Bantul, pada Minggu (12/4/2026) sore itu.
Puluhan anak antusias meninggalkan layar gawainya, demi mengikuti kegiatan bermain, dengan beragam permainan tradisional. Kegiatan ini diadakan oleh kelompok mahasiswa Pembelajaran Luar Kampus (PLK) UNY, Adyaswara Mengabdi 2026.
“Kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan kembali berbagai permainan tradisional, yang mulai terlupakan,” tulis PLK UNY dalam siaran persnya, baru-baru ini.
Kegiatan ini, sekaligus, mengedukasi anak-anak mengenai pentingnya interaksi sosial secara langsung.
Meskipun terlihat sederhana, pelestarian mainan tradisional ini berkaitan erat dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Diantaranya, SDGs Poin 11 tentang Kota dan Pemukiman Berkelanjutan, yang diwujudkan dengan melindungi dan menjaga warisan budaya dan alam dunia. Termasuk, kearifan lokal dalam bentuk permainan trasidional yang dulu sering dimainkan di masyarakat.

Selain itu, SDGs Poin 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera yang dilakukan dengan mendorong aktivitas fisik dan kesehatan mental anak.
Permainan tradisional, seperti bakiak dan lompat tali melatih motorik kasar dan ketangkasan yang tidak didapatkan saat bermain game online.
Terakhir, kegiatan ini juga merupakan wujud SDGs Poin 4 tentang Pendidikan Berkualitas, yaitu dengan mengembangkan karakter, kerja sama tim, dan kejujuran melalui aturan permainan yang menjunjung tinggi sportivitas oleh anak-anak Dusun Jetis.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa PLK UNY 2026 menyediakan berbagai permainan, mulai dari bakiak, bekel, kelereng, lompat tali, hingga dakon.
PLK UNY Adyaswara Mengabdi 2026 juga menyediakan tempat bermain gobak sodor dan engklek.
Tak hanya menyediakan alat, para mahasiswa juga turut serta mendampingi anak-anak, dan memberikan edukasi tentang cara memainkannya.
Keseruan memuncak saat gobak sodor antarkelompok digelar. Kerja sama dan koordinasi menjadi kunci utama agar tidak tersentuh oleh pihak lawan.Ini menjadi pelajaran berharga tentang kolaborasi yang disampaikan secara menyenangkan.
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah menjaga identitas budaya di tengah gempuran modernitas.
Selama ini, permainan tradisional dianggap sebagai media paling efektif untuk membentuk karakter anak yang komunikatif dan peduli lingkungan. Itu lantaran beberapa mainan dibuat dari bahan ramah lingkungan, dan dapat ditemukan dengan mudah di sekitar tempat tinggal mereka.

Kegiatan ini ditutup dengan pemberian set mainan tradisional kepada anak-anak Padukuhan Jetis, sehingga dapat digunakan kembali secara rutin.
Mereka diberi kebebasan memilih mainan yang ingin mereka dapatkan.
Melalui inisiatif ini, PLK UNY Adyaswara Mengabdi 2026 berharap, nilai kelestarian budaya akan terus tumbuh dan merekah di hati generasi penerus Padukuhan Jetis. (Ed-01)







