Lonjakan Covid-19 di Yogyakarta dan Rumah Sakit yang Nyaris Kehabisan Sumber Daya

  • Whatsapp
Ilustrasi

YOGYAKARTA (Kabarkota.com) – Sepanjang periode Mei hingga Juni 2021, ratusan tenaga kesehatan dari sejumlah rumah sakit (RS) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terkonfirmasi positif Covid-19.

Hal itu diungkapkan oleh beberapa direktur rumah sakit di Yogyakarta, di antaranya Direktur RSUP dr Sardjito Yogyakarta, Rukmono; Direktur Utama RS Panti Rapih Yogyakarta, Tri Putro Nugroho; dan Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Muhammad Komaruddin, melalui webinar, Senin, 28 Juni 2021.

Bacaan Lainnya

Masing-masing dirut tersebut menjelaskan kondisi yang ada di rumah sakit mereka. Di RSUP dr Sardjito, pada Juni ini yang terpapar 204 orang. Sebanyak 185 orang di antarnya menjalani isolasi mandiri di rumahnya, 15 orang isolasi mandiri di fasilitas rumah sakit, dan 4 lainnya menjalani rawat inap karena kondisinya berat.

Sementara di RS Panti Rapih Yogyakarta, sejak awal Mei 2021 ada 31 tenaga kesehatan yang menjalani isolasi akibat terkonfirmasi positif Covid-19, terdiri dari 6 dokter, lainnya petugas administrasi dan perawat. Sedangkan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, sebanyak 45 nakes terkonfirmasi positif.

Banyaknya tenaga kesehatan yang terkonfirmasi positif tersebut dibenarkan oleh Kepala Pelayanan Kesehatan Dinkes DIY, Yuli Kusumastuti. Menurutnya, hampir seluruh rumah sakit di DIY telah melaporkan bahwa sejumlah nakes mereka terkonfirmasi.

“Kami tidak punya data pasti. Tapi hampir semua rumah sakit melaporkan ada yang terkonfirmasi positif. Terakhir kemarin adalah RSUD kota ada sekitar 45 nakes terkonfirmasi positif,” jelasnya.

 

Kondisi Terkini Rumah Sakit di DIY

Yuli juga menjelaskan bahwa dalam dua pekan terakhir kasus Covid-19  di DIY mengalami lonjakan yang signifikan. Hal yang sama disebutnya terjadi hampir di semua provinsi.

Meski demikian, pihaknya dan RS di DIY sudah seoptimal mungkin melayani pasien Covid-19, termasuk  27 RS rujukan.  Tetapi, RS memiliki keterbatasan, mulai dari tempat tidur hingga sumber daya manusia (SDM), sementara kasus yang makin bertambah tidak berimbang dengan ketersediaan bed atau tempat tidur. Sehingga BOR atau keterisian tempat tidur semakin lama semakin tingggi.

“Saat ini rata-rata per hari mendekati 85 persen. Ini tidak stagnan karena para direktur RS terus berupaya menambah bed semampu mungkin,” lanjutnya.

Hal itu menyebabkan pihak rumah sakit menerima beban ganda. Satu sisi pasien covid harus dilayani, pada sisi lain RS tidak bisa dan tidak boleh menolak jika terjadi kegawatdaruratan untuk pasien noncovid.

Kondisi itu diperberat dengan banyaknya tenaga kesehatan yang terkonfirmasi positif dan harus melakukan isolasi mandiri. Membludaknya pasien juga mengakibatkan beberapa layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) harus menutup pelayanan karena kapasitasnya penuh.

“Harus dipahami bahwa situasi yang berkembang bahwa itu sangat fluktuatif (IGD yang ditutup). Artinya bisa saja satu jam lalu dan saat ini sudah berubah. Jadi penutupan itu hanya pada satu titik tertentu,” tuturnya.

Penutupan IGD tersebut, lanjutnya, tidak akan berlarut-larut. Bahkan sejak kemarin, Sabtu, 27 Juni 2021, beberapa rumah sakit sudah mengonfirmasi bahwa layanan IGD mereka kembali dibuka.

Meski demikian, dari 27 rumah sakit rujukan Covid-19 di DIY, tingkat keterisian tempat tidurnya hampir mencapai 100 persen. “Tapi terus berjalan dan fluktuatif. Terus berupaya supaya pelayanan tetap berjalan.”

Saat ini, kata dia, pembuatan RS darurat Covid di DIY masih dalam proses. Tapi, berapa pun jumlah penambahan tempat tidur maupun rumah sakit, tidak akan mampu memenuhi kebutuhan jika pandemi ini tidak dikendalikan dari hulu. “Berapa pun bed rumah sakit kita siapkan kalau di hulu tidak dikendalikan, pasti tidak akan mampu. Olehnya itu kami mengimbau bahwa prokes harus kita kuatkan,” dia menambahkan.

 

Pasien IGD Meningkat 3 Kali Lipat

Senada dengan Yuli. Direktur Utama RS Panti Rapih, Tri Putro Nugroho, menuturkan, dalam sepekan terakhir terjadi peningkatan kunjungan pasien yang cukup tinggi di IGD maupun poliklinik. Peningkatannya mencapai lebih dari 3 kali lipat.

“Kalau bulan lalu 20 per hari, saat ini sampai 70 per hari bahkan lebih.”

Situasi ini berdampak terhadap pelayanan rumah sakit. Saat ini, lanjutnya, RS Panti Rapih melakukan upaya untuk menjaga komitmen agar tetap bisa melayani pasien, yang tentu saja harus memperhatikan keamanan tenaga kesehatan di sana.

Dia mengakui bahwa Kondisi tersebut mengganggu pelayanan. Di satu sisi, rumah sakit ingin melayani, namun sisi lain tenaga medis yang dimiliki sangat terbatas.

“Kita lakukan pengaturan, artinya tidak menerima sementara agar kami fokus melakukan pelayanan pada pasen yang ada di IGD, istilahnya buka tutup. Tanggal 27 pagi kondisi sudah terkendali dan kita buka kembali. Hari ini  pun demikian.” Ucapnya menguraikan.

Tingkat keterisian tempat tidur di RS Panti Rapih pun sangat fluktuatif, antara 80 hingga 100 persen. Banyaknya pasien juga memengaruhi kebutuhan oksigen. Sejak tanggal 22 Juni lalu, persediaan oksigen di RS Panti Rapih tidak stabil.

Dia memberikan gambaran, sebelum kasus Covid-19 membludak, pengisian persediaan oksigen dilakukan sepekan sekali, tetapi kini dua hari sekali.

“Itu untuk oksigen likuid. Yang penting adalah kontinuitas pengisian. Kita ada 207 tabung ukuran 6 meter kubik dan 22 tabung ukuran 1 meter kubik,” tuturnya.

Banyaknya tenaga kesehatan yang terkonfirmasi Covid-19 juga menjadi tantangan tersendiri. Terlebih RS Panti Rapih mengatur bahwa masing-masing tenaga kesehatan yang melayani pasien Covid-19 bekerja maksimal 4 jam sehari.

“Tidak bisa lebih dari itu agar tidak kelelahan. Kita sementara koordinasi dengan Stikes Panti Rapih yang mungkin bisa memback up jika membutuhkan tenaga lebih”.

 

Tenda Darurat di RSUP dr Sardjito

Kondisi di RSUP dr Sardjito Yogyakarta tidak jauh berbeda dengan RS Panti Rapih, khususnya dalam peningkatan jumlah pasien. Di RSUP dr Sardjito sudah didirikan tenda darurat.

Rukmono, Dirut RSUP Sardjito, menjelaskan, pendirian tenda tersebut bukan berarti pihaknya sudah kolaps.

“Kita Insya Allah masih aman. Tenda itu kita dirikan untuk mengantisipasi mana kala pasien Covid yang mau masuk ruang perawatan masih harus menunggu,” jelasnya.

Sampai saat ini, kata dia, tendanya belum digunakan.

Menurutnya, RSUP dr Sardjito memiliki 303 tempat tidur yang didedikasikan untuk merawat pasien Covid-19. Dari 303 bed tersebut, 27 di antaranya adalah tempat tidur untuk ICU, yang dilengkapi dengan ventilator.

Dari fasilitas yang ada tersebut, khusus untuk perawatan ICU, tingkat keterisian tempat tisurnya mencapai 85 persen. Jika ada penambahan pasien, kata Rukmono, mungkin pihaknya akan kesulitan.

“Karena yang diterima itu diprioritaskan pasien dari isolasi yang ada perburukan. Ini harus diutamakan.”

Sementara tingkat keterisian tempat tidur isolasi mandiri sebanyak 56 persen, artinya untuk pasien Covid-19 masih bisa ditampung.

Dia menambahkan, beberapa waktu lalu pihak RS Sardjito telah mendesain 40 persen ruangan untuk perawatan pasien Covid-19. Tapi, saat itu penggunaannya sedikit, hanya di bawah 10 persen. Sehingga ruangan itu kembali digunakan untuk perawatan pasien noncovid.

“Nah, begitu ada lonjakan, kita kelabakan juga memindahkan pasien noncovid dari ruangan-ruangan itu,” ucapnya.

RSUP dr Sardjito memiliki dua IGD, yakni IGD khusus pasien Covid-19 dan noncovid atau reguler. Dengan adanya buka tutup rumah sakit mitra mereka di DIY, jumlalh pasien yang datang ke RSUP Sardjito meningkat drastis.

Kunjungan pasien yang merasa bergejala Covid-19 pada 27 Juni lalu sebanyak 271 orang, sedangkan pada 28 Juni 2021  sebanyak 248 pasien.

“Dari 202 orang 165 bisa rawat jalan. Artinya dia tidak harus mondok, tapi bisa dirawat di luar rumah sakit. Kalau ada perburukan bisa ke rumah sakit,” tambahnya.

Mengenai ketersediaan oksigen, dia mengatakan, pihaknya memiliki tabung oksigen cair kapasitas 4500 galon dan 34 tabung berkapasitas 1 meter kubik. Dalam kondisi normal, penggunaannya maksimal 5 tabung per hari. Sedangkan yang kapasitas Yang 4.500 galon diisi setiap 5 hari sekali, tapi kini pengisian dilakukan setiap hari.

“Untuk pemenuhan SDM yang kurang, selama pandemi RS Sardjito merekrut relawan, total yang kita rekrut ada 143 orang,” jelasnya.

 

Pasien Meninggal di PKU Bertambah

Dirut PKU Muhammadiyah, Komaruddin, juga memaparkan situasi yang terjadi di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta, termasuk tidak adanya layanan penerimaan pasien IGD beberapa hari lalu.

Sebagai langkah antisipasi agar hal itu tak terulang, pihaknya sudah melakukan penambahan ruangan perawatan isolasi,  yang mulai siap digunakan per hari ini.

Pihaknya merelokasi ruangan yang tadinya digunakan untuk vaksinasi menjadi ruang perawatan IGD. “Yang tadinya ada fasilitas untuk vaksinasi Covid kita pindah di luar area rumah sakit dengan mendirikan tenda. Ruangan yang sebelumnya kita siapkan untuk IGD Covid, cukup untuk 12 tempat tidur. Ini sebagai antisipasi jika terjadi penumpukan,” ujarnya mengurai.

Dia menambahkan. yang jadi masalah sebenarnya bukan mengenai tempat, tetapi SDM yang semakin berkurang, baik dokter maupun perawat.

Sebab hampir 20 persen perawat di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta terkonfirmasi positif. Pagi beberapa dokter jaga IGD juga muncul gejala. Sebelumnya 7 dokter terkonfirmasi positif.

Kondisi lain yang disampaikan adalah meningkatnya jumlah kematian pasien akibat Covid-19.

“Sepanjang 2020 yang kematian karena Covid hanya 78 pasien, di 2021 sampai Juni sudah 206 pasien yang meninggal, dalam sehari ada dua atau 3 yang meninggal,” ucapnya.

Selisih pasien yang meninggal dan pasien yang sembuh disebutnya tidak terpaut terlalu jauh.

Mengenai persediaan oksigen cair, Komaruddin menuturkan, sejak Sabtu hingga hari ini stok oksigen hanya bisa bertahan untuk dua jam. Sebagai langkah antisipasi agar tidak kehabisan, pihaknya mendatangkan suplaiyer baru dari Surabaya dan Denpasar.

Saat ini pihaknya belum mampu memenuhi kebutuhan SDM tenaga kesehatan, RSU PKU Muhammadiyah sempat membuka lowongan magang untuk nakes, namun dari 40 pendaftar hanya 14 orang yang hadir memenuhi undangan. “Ternyata dari beberapa yang kita undang, yang hadir cuma 14 dari 40 pendaftar. Itu belum mencukupi kebutuhan.”

 

Penulis: Kurniawan

Editor: Dee

Pos terkait