SLEMAN (kabarkota.com) – Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan Media Sosial (Medsos) sangat luar biasa. Sementara Yogyakarta sebagai Kota Pelajar, penetrasi internetnya juga sangat tinggi.
Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda DIY, Komisaris Besar Polisi (Kombes. Pol.) Ihsan berpendapat bahwa hal tersebut menjadikan warga Yogyakarta dan pendatang selalu mengakses informasi apa pun tentang Yogyakarta.
Menurut Kabid Humas Polda DIY, ada tiga hal yang menjadikan Yogyakarta sebagai pusat pembicaraan level nasional.
Pertama, banyak orang di Indonesia yang pernah kuliah di Yogya. Kedua, banyak orang tua dari luar daerah yang menyekolahkan anak-anaknya di Yogyakarta. Ketiga, banyak orang yang pernah berwisata ke Yogyakarta.
“Apa pun yang terjadi di Yogya, mereka akan selalu mengikuti perkembangan beritanya. Ini sebenarnya peluang bagi media-media lokal untuk memberitakannya,” kata Ihsan saat Sapa Kabid Humas Polda DIY dengan sejumlah wartawan lokal di Yogyakarta, dengan tema “Jaga Jogja Sesarengan”, baru-baru ini.
Untuk itu, Ihsan berharap, peluang tersebut dapat dikelola dengan baik. Terutama dalam penyampaian informasi yang berbasis pada fakta sebenarnya. “Itu perlu untuk membangun narasi tentang Yogya,” sambung Ihsan.
Mengingat, lanjut Ihsan, selama ini banyak informasi yang beredar di berbagai platform media, termasuk media sosial yang tidak berdasarkan pada fakta sebenarnya.
Sementara, Ihsan menganggap, selama ini penyebaran berita-berita dari media lokal seringkali kalah masif dibandingkan dengan media-media dari luar Yogyakarta.
“Jadi, narasi-narasi dari luar yang lebih banyak muncul,” ucapnya lagi. Padahal konten-konten media lokal di Yogyakarta, sebenarnya juga tidak kalah dengan media-media nasional.
Ihsan mengungkapkan, media-media dari luar banyak yang membaca peluang tentang Yogyakarta, dengan memanfaatkan teknologi.
Untuk itu, Polda DIY berkomitmen siap memberikan dukungan bagi media-media lokal untuk berkembang, dalam bentuk penyediaan server, jika nanti dibutuhkan. Harapannya ke depan, kepopuleran media-media lokal tak kalah media-media nasional. Terutama dalam hal pemberitaan tentang Yogyakarta.
“Intinya, mari kita jaga jogja sesarengan, bersama-sama. kalau bukan kita, siapa lagi? Kita sampaikan bahwa Yogyakarta masih istimewa,” pintanya Pasalnya, banyak warga luar daerah yang mempertanyakan tentang situasi keamanan di yogyakarta.
Praktisi UII: Panggung bagi Media Daerah sangat Luas
Sementara itu Praktisi Teknologi Informasi Media Online Universitas Islam Indonesia (UII), Ipan Pranashakti juga berpandangan bahwa sebenarnya, panggung bagi media daerah sangat luas.
“Media daerah memidlidki keunggulan kompetitif utama, berupa akses langsung pada realitas akar rumput, keunikan adat budaya, dan kecepatan pelaporan di lokasi utama yang seering luput dari radar media-media nasional,” tegasnya.
Hanya saja untuk bisa menjadi media nasional, papar Ipan, kemampuan daya saing media daerah perlu ditingkatkan. Diantaranya, dengan memanfaatkan Search Engine Optimization (SEO), Global Engine Optimization (GEO), dan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
“Teknologi kecerdasan buatan dan revolusi mesin pencari di internet tak akan mematikan pamor jurnalisme lokal,” anggapnya. Justru, keduanya bisa menjadi jembatan penghubung bagi jurnalisme daerah untuk mendapatkan panggung nasional yang tak terbatas. (Rep-01)







