Merapi dalam Fase Erupsi Efusif, Ini yang Perlu Diwaspadai

Ilustrasi (dok. ig merapiupdate)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Sejak tanggal 23 November 2018, Gunung Merapi memasuki fase erupsi efusif (keluarnya magma secara meleleh). Fase ini terjadi, setelah Merapi melewati fase erupsi magmatis, yang ditandai dengan munculnya kubah lava, pada 11 November 2018 lalu.

Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG),
Kasbani, erupsi yang bersifat efusif pada 2018 ini sesuai dengan skenario yang disampaikan bahwa aktivitas paska letusan 2010 akan cenderung mengikuti kronologi aktivitas paska 1872. Paska letusan 1872 kubah lava baru muncul pada
1883 atau 11 tahun kemudian.

“Sedangkan paska 2010 kubah lava baru muncul pada tahun 2018 ini atau 8 tahun kemudian,” jelas Kasbani melalui siaran pers, Senin (26/11/2018).

Dalam fase erupsi efusif ini, lanjutnya, maka pemantauan visual perkembangan kubah lava, dan kestabilan lereng menjadi aspek pemantauan yang krusial dan prioritas.

Baca Juga:  Ingin Menu Mie Persis Bungkusnya? Di sini Tempatnya

“Kubah lava muncul tepat di tengah rekahan kubah lava 2010 dan tumbuh secara simetris. Volume kubah per 22
November 2018 mencapai 308.000 meter kubik, dengan laju sekitar 3.000 meter kubik per hari terhitung dari awal
munculnya,” imbuh Kasbani.

Hal itu seiring dengan pertumbuhan kubah lava guguran lava yang mulai terjadi pada tanggal 22 Agustus 2018 dan dominan mengarah ke barat laut dalam area kawah.

Sementara material kubah lava, saat ini sudah mencapai batas permukaan kubah lava 2010 hampir di semua arah, termasuk pada arah bukaan kawah. Hal ini memungkinkan guguran material kubah dapat langsung meluncur ke luar kawah seperti yang terjadi pada tanggal 23 November 2018, di mana teramati 4 kali guguran lava mengarah ke bukaan kawah, hulu Kali Gendol. Jarak luncur terjauh
sebesar 300 m terjadi pada pukul 19.05 WIB.

Baca Juga:  Perkembangan Terkini Erupsi Merapi. Ini Fakta yang Terungkap

“Data pemantauan menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup tinggi yang menandakan masih berlangsungnya suplai magma,” ucapnya.

Berdasarkan laporan mingguan tanggal 16 – 22 November tercatat kegempaan G. Merapi 28 kali gempa Hembusan (DG), 2 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 2 kali gempa Fase Banyak (MP), 261 kali gempa Guguran (RF), dan 21 kali gempa Low
Frekuensi (LF).

Jika kubah lava terus mengalami pertumbuhan, sebut Kasbani, maka kejadian guguran lava ini akan terus terjadi dan meningkat intensitasnya, seiring dengan meningkatnya aktivitas kubah lava.

“Untuk saat ini intensitas guguran masih rendah dengan potensi material yang juga masih kecil sehingga belum membahayakan penduduk,” tegasnya.

Baca Juga:  Guru Besar Fakultas Hukum Diteror, Rektor UII Yogyakarta Bersikap

Lebih lanjut pihaknya memaparkan, berdasarkan pemodelan, jika sebagian besar volume material kubah lava saat ini runtuh, maka awanpanas dapat meluncur ke arah Kali Gendol sejauh 2,2 km atau lebih dari 3 km, dari puncak Merapi. Perhitungan ini berdasarkan asumsi kondisi kubah lava tidak stabil. Namun, saat ini kondisi kubah lava masih stabil berada tepat di tengah kawah.

Meski aktivitas guguran lava pijar 2018 dapat menjadi sarana hiburan bagi masyarakat, harapannya, dapat menimbulkan kesadaran dan semangat kebersamaan dalam mengantisipasi bahaya Gunung Merapi ke depan.

“Masyarakat diperbolehkan menyaksikan aktivitas guguran lava di luar jarak bahaya
yang telah ditetapkan, yaitu lebih dari 3 km dari puncak,” imbaunya. (Ed-03)