Nasib Relawan Jokowi

Ilustrasi (dok. kabarkota.com)

Saya teringat sekitar 5 tahun lalu, menjelang Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) turun dari kekuasaan, Bli Made Toni Made Supriatma menulis, “Pesta sudah usai,”. Kerena sudah menjabat dua periode, maka situasi akan berubah. Para pendukung dan pasukan SBY harap bersiap hidup di luar kekuasaan. Kekuasaan akan berganti. Mohon menyiapkan diri …

Kondisi itu sama dengan relawan Jokowi sekarang. Kekuasaan Presiden, Joko Widodo (Jokowi) tinggal dua tahun. Mau lanjut tiga periode tapi tak hanya partai-partai lain yang menolak, Bunda Pak Presiden pun saya dengar juga tidak berkenan dan mengambil langkah. Hanya saja, para relawan Jokowi masih ingin gas poll….dengan beragam usulan. Termasuk mengusulkan Jokowi jadi Cawapres.

Relawan memang mirip suporter bola, bahkan hardlinernya, sulit pindah ke lain hati. Semacam suporter Manchester United (MU) yang lagi sering kalah dan susah juara, tapi mereka tetap tahan menderita, tidak pindah klub.

Di dunia politik kita, relawan tentu saja hanya bermain satu kartu karena tidak hanya identitas yang didapat, tapi juga pekerjaan atau harapan akan adanya pekerjaan, jika idolanya berkuasa. Minimal eksistensi. Maka banyak yang ngotot, “Kalau bukan dia, tidak”.

Belum ada aturan yang baik, apalagi sosialisasi tentang suporter politik atau relawan. Termasuk, bagaimana menjadikan partai politik itu milik publik, masih perlu perubahan Undang-Undang.

Berpolitiknya relawan berbeda dengan wakil rakyat. Beda pula dengan politisi penguasa, apalagi oligarki. Pihak yang paling jago dalam menyikapi politik dan menang adalah para oligarki. Mereka paling siap dan akan menyesuaikan diri dengan kondisi yang berubah sehingga jarang tergelincir.

Mereka biasa pasang beberapa kartu sekaligus dengan taruhan terbesar untuk pihak yang paling berpeluang menang dan memberi cuan terbesar. Tapi kalau yang menang adalah pilihan rakyat, dengan cuan yang sedikit juga tidak masalah. Toh cuan juga

Kalau di buku teks ekonomi dasar, terutama soal ekonomi publik, yang namanya penguasa dan wakil rakyat ketakutannya hanya jangka pendek saja. Jangan sampai kalah bangkrut, juga jangan pula menang namun tidak balik modal. Maka godaan para politisi ketika berkuasa ya ambil rente.

Kalau wakil rakyat pandangan/horizon jangka pendek juga maka yang terlintas di benaknya bisa jadi seperti ini: “Besok ketika pemilu, saya terpilih lagi tidak ya?

Maka kepastian ada pemodal untuk kontestasi lebih penting bagi mereka dibandingkan memenuhi janji kepada konstituen. Dan terbukti, banyak wakil rakyat yang akhirnya seperti itu. Meskipun tentu saja juga banyak yang ingin menjaga idealisme. Wakil rakyat yang masih menjaga idealisme inilah yang sebenarnya perlu dicari dan dibantu.

Sekarang ada fenomena supporter pendukung Jokowi, masih ingin ada hattrick. Mereka sudah aktif dalam 10 tahun. Kesannya, mereka enggan untuk bubar kembali ke masyarakat atau bergabung dengan partai. Akhirnya partai pemenang pemilu, merasa terganggu…

Selain masalah ideologi, sebetulnya penjelasan ekonomi dasar penting untuk memudahkan kita membaca soal ini. Tidak ada yang gratis di kekuasaan. Menang dapat insentif. Dan Insentif tak harus uang, tetapi bisa juga non materi. Misalnya, eksistensi merasa ikut berkuasa termasuk didalamnya.

Nanti kalau Jokowi tidak di kekuasaan, lalu siapa yang akan memberi insentif pada mereka? Berbahaya atau tidak? sebab para calon dari satu partai pun belum tentu menggunakan jasa para relawan itu. Apalagi jika yang menang kabilah lain. Ketakutan-ketakutan seperti itu terkadang dibangun sendiri dan akhirnya sebagian dari mereka ada yang benar-benar takut.

Jika pengganti Jokowi bukan dari calon mereka, lalu mereka mau apa? Kalau yang menang kabilah lain, itu lebih menakutkan bagi mereka. Tapi sebenarnya, ketakutan yang sama juga mendera para pendukung di kabilah lain. Kesengsaraan berlanjut, jika penguasanya masih sama.

Jadi, kita masih belum menemukan formula agar pemilu menghasilkan presiden untuk semua warga, karena ketika masa kontestasi yang diperdebatkan bukan masalah yang riil di masyarakat.

Kalau orang manajemen biasanya menyarankan. Dalam bisnis itu buatlah plan A, B, C dan seterusnya. Ternasuk alternatif-alternatif pekerjaan, jika nanti tidak diperlukan lagi di kekuasaan. Jadi bagi yang calonnya kalah atau kalah lagi, ini menjadi penting. Alternatif lain itu bisa masuk partai, membuat partai baru atau kembali ke masyarakat dan bekerja biasa.

Itulah Penting mendorong para kontestan untuk menjelaskan rencana ekonominya, khususnya pasca Pemilu. Capres pemenang pemilu dari partai manapun nanti akan jadi presiden. Semua orang tanpa kecuali, pun yang tidak memilihnya atau malah golput tetap berhak mengajukan usul dan kritik atas kebijakan.

Kalau menurut saya, menjadi suporter atau relawan tidak ada masalah, tapi sebaiknya hanya ketika Pemilu saja. Kontestasi demokrasi ini konsepnya berkompetisi mencari pemimpin, tapi tanpa darah dan tanpa hura-hura yang tidak perlu. Hasilnya semua harus senang atau menerima dengan lapang untuk bertanding lagi menawarkan program pada lima tahun mendatang.

Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan.

Alfatehah. Aamiin.

Tulisan ini juga telah diunggah di akun facebook M Faried Cahyono

Pos terkait