Ponpes Al Munawwir Krapyak Yogya: Berjihad Tak Harus Turun ke Jalan

Ilustrasi (sutriyati/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakartan non aktif, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang hingga kini masih bergulir, telah menyita perhatian masyarakat, utamanya umat muslim.

Desakan demi desakan terus dilakukan oleh berbagai elemen ormas Islam, agar kasus tersebut segera diselesaikan dengan seadil-adilnya. Puncaknya, aksi damai besar-besaran oleh umat muslim, di Jakarta, 4 November 2016 lalu. Termasuk, para ulama ketika itu turut turun ke jalan menyuarakan aspirasi mereka.

Namun, dari ratusan ribu orang tersebut, kalangan Nahdlatul Ulama atau yang sering disebut juga warga Nahdiyin tak turut bergabung dalam Aksi Bela Islam II ini. Begitu pun warga Nahdiyin di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Munawwir Krapyak Yogyakarta.

Baca Juga:  Ribuan Santri NU ikuti Upacara Hari Santri Nasional, Ini Pesan Wagub DIY

Namun, salah satu pengurus pusat Ponpes Al Munawwir Krapyak, Abdul Wahid, saat ditemui kabarkota.com, Ahad (20/11/2016), membeberkan alasan ketidakikutsertaan mereka dalam aksi tersebut.

Menurutnya, setiap muslim memiliki cara tersendiri dalam menghadapi permasalahan. Ada sebagian yang memilih untuk berdemo, namun sebagian lainnya termasuk para santri NU melakukan doa bersama untuk turut menjaga keamanan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

“Kalau pun ada musuh-musuh yang ingin menghancurkan NKRI ini, akan dibalas sendiri oleh Allah,” kata Wahid saat ditemui di kantornya.

Dalam rangka doa bersama yang digelar pada 3 November 2016 itu, pihaknya bergabung dengan tiga ponpes NU lainnya di Yogyakarta, atas undangan dari Polda DIY.

Baca Juga:  12 Siswa SD di Sleman Tak Ikuti Ujian

“Saya yakin, waktu 4 November itu, masih ada kyai-kyai yang tetap berada di pondoknya. Mereka membantu dengan doa,” ucapnya lagi.

Wahid berpendapat, dalam berjihad tidak harus selalu turun ke jalan, melainkan juga dapat dilakukan dengan mengaji, salat berjamaah secara rutin dalam lima waktu, serta mengamalkan ajaran dalam Al Quran.

Sementara terkait dengan penyikapan kasus Ahok, Wahid menambahkan bahwa pihaknya tetap merujuk pada fatwa PBNU. “Siapa yang tidak sakit hati kitab sucinya dinodai, didustakan? Pasti tidak ada. Tapi setiap orang punya cara tersendiri dalam hal mengambil hikmah dari kejadian tersebut,” tegasnya.

Baca Juga:  UGM usulkan Muhammadiyah dan NU Kandidat Penerima Nobel Perdamaian

Wahid juga berharap, agar kasus tersebut dapat segera diselesaikan secara tuntas dan seadil-adilnya sehingga tidak ada lagi pihak yang dirugikan ataupun tersakiti.

Untuk isu akan digelarnya kembali Aksi Bela Islam III pada 25 November 2016 mendatang, Wahid mengaku belum mengetahui secara pasti instruksi dari pengasuh. “Para santri hanya ikut pengasuh. Kalau misalnya dari pengasuh tidak ada instruksi apa-apa ya kami akan diam. Namanya santri kan samikna wa atokna pada pengasuh,” tegasnya.

Menyinggung pertemuan Jokowi dengan para ulama dan pengasuh pondok pesantren, baru-baru ini, Pihaknya meyakini, hal itu bukan pencitraan, melainkan benar-benar untuk kebaikan bangsa ini. (Rep-03/Ed-03)