SLEMAN (kabarkota.com) – Estafet kepemimpinan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta resmi berganti dari Fathul Wahid ke Hari Purnomo, setelah Pelantikan Rektor dan Wakil Rektor UII Periode 2026 – 2030, pada 2 Juni 2026.
Pengangkatan Hari Purnomo sebagai rektor baru UII berdasarkan Surat Keputusan Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII nomor 033/SK-PYBW/PJB/6/2026, tertanggal 1 Juni 2026.
Dengan pergantian kepemimpinan tersebut, harapan demi harapan dari berbagai pihak disematkan kepada Rektor, Hari Purnomo dan jajarannya, setidaknya dalam lima tahun ke depan.
PYBW – UII: “Jadilah Pemimpin yang Berani Mengambil Keputusan”
Ketua Umum (Ketum) Pengurus Yayasan Badan Wakaf (PYBW) UII – Suparman Marzuki mengatakan, amanah yang diberikan kepada rektor dan wakil rektor baru bukan sekadar jabatan, melainkan tanggung jawab besar untuk membawa UII sebagai pusat keunggulan.
“Kami meminta kepada rektor dan warek agar fokus sepenuhnya pada penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas,” ucap Suparman dalam sambutannya, saat Pelantikan Rektor dan Warek UII Periode 2026 – 2030, di Gedung Kahar Muzakir.
Lebih lanjut Suparman meminta mereka agar segera membenahi berbagai aspek internal akademik, identifikasi setiap simpul yang menghambat, perbaikan tata-kelola kurikulum, serta petingkatan mutu riset.
Mengingat, dunia pendidikan tinggi bergerak sangat dinamis sehingga pencapaian masa lalu tidaklah cukup.
“Kita harus bergerak cepat untuk mengejar ketertinggalan, dan memastikan UII tetap menjadi lokomotif pendidikan Islam di Indonesia,” sambung Suparman.
Di luar gerbong internal tersebut, pihaknya juga menyampaikan bahwa UII memiliki aset eksternal yang strategis dan sangat besar, yakni lebih dari 150 ribu alumni yang bergerak di berbagai sektor dari penjuru dunia.
Menurutnya, angka ini bukan sekadar statistik, melainkan ‘raksasa tidur’ yang memiliki potensi kekuatan intelektual, ekonomi, dan jaringan politik yang dasyat.
“Atas nama yayasan, kami meminta kepada pimpinan universitas yang baru untuk melihat alumni bukan hanya sebagai objek pendataan, melainkan subjek strategis dalam pengembangan institusi,” pintanya.
Terlebih, kata Suparman, di tengah disrupsi teknologi dan globalisasi saat ini, sejarah terus menuntut dilakukannya kontekstualisasi agar tidak menjadi menara gading, serta tetap relevan sebagai pusat keunggulan akademik yang inklusif, adaptif, berintegritas, dan kritis.
“Jadilah pemimpin yang berani mengambil keputusan, dan merajut kemitraan yang harmonis dengan semua mitra,” tegasnya.
LLDikti Wilayah V DIY Berharap Kepemimpinan yang sesuai Zamannya
Dalam sambutannya, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah V DIY, Setyabudi Indartono juga berharap, pelantikan Rektor dan Warek UII periode ini bisa menghasilkan kepemimpinan yang sesuai dengan zamannya.
“Kita berada di era 2026, dengan landscape pendidikan yang bergerak sangat dinamis. Tantangan disrupsi teknologi, integrasi, kecerdasan buatan dalam pembelajaran, tuntutan relevansi lulusan hingga penguatan indikator kinerja utama (IKU) menuntut kepemimpinan yang adaptif, lincah dan visioner,” paparnya.
Setyabudi mengaku optimis, UII mampu menjadi mempertahankan dan meneguhkan posisinya di jajaran Perguruan Tinggi elit nasional, dengan meraih predikat akreditasi unggul dari BAN – PT, mengakselerasi internasionalisasi Program Studi (Prodi), sebagaimana yang telah ditorehkan sebelumnya, di bawah kepemimpinan Rektor periode 2022 – 2026, Fathul Wahid.
“Kami optimis bahwa UII saat ini merupakan salah satu PTS dengan jumlah prodi unggul terbanyak ini akan menjadi pendorong dan akselerator peningkatan jumlah prodi terakreditasi unggul,” tuturnya.
Sultan Minta Perguruan Tinggi tak Larut dalam Kejar-Kejaran Rangking Semata
Sementara Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X berpandangan bahwa Perguruan Tinggi yang besar adalah PT yang memuliakan manusia.
Terlebih, manusia hidup di era yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah umat. Kecerdasan buatan tumbuh melampau kecepatan kedewasaan manusia. Algoritma mampu menulis, melukis, bahkan merancang kebijakan.
Oleh karena itu, sebut Sultan, kemanusiaan menjadi sumber daya yang paling langka, berharga, dan mendesak untuk dirawat.
“Di sinilah, PT dipanggil untuk hadir, bukan sekadar sebagai lembaga pendidikan, melainkan sebagai benteng peradaban,” jelas Gubernur DIY dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Kapala Bidang Pembinaan SMA Disdikpora DIY, Tukiman.
Untuk itu, Sultan menekankan bahwa kampus tidak boleh larut dalam kejar-kejaran peringkat dan akreditasi semata. Kampus harus hadir menjawab kegelisahan nyata, ketimpangan sosial yang menganga, krisis lingkungan yang mengancam, disrupsi digital yang mengguncang, hingga pudarnya etika di ruang publik.
“Semoga UII di bawah kepemimpinan baru, semakin kokoh menjadi bagian dari warisan peradaban, tidak hanya untuk Yogyakarta maupun Indonesia, melainkan juga untuk seluruh umat manusia,” harapnya.
Komitmen Rektor UII
Sementara itu, Rektor UII periode 2026 – 2030, Hari Purnomo menyadari bahwa universitas bukan sekadar tempat berlangsungnya proses belajar mengajar, melainkan rumah besar bagi lahirnya gagasan untuk tumbuhnya integritas dan terbangunnya harapan.
“Untuk itu, kepemimpinan yang saya emban diarahkan untuk memperkuat mutu akademik, memperluas kebermanfaatan riset, meneguhkan tata kelola yang baik, serta memastikan UII terus hadir sebagai pilar peradaban yang memberi jawaban atas tantangan zaman,” tegasnya.
Sebagai penerus, ucap Hari, pihaknya juga akan menghormati warisan pemimpin-pemimpin UII terdahulu, sembari terus berinovasi dan beradaptasi sebagai tuntutan zaman, dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman.
Aktivis Yogya Kukuhkan Fathul Wahid jadi Rektor Rakyat

Di lain pihak, para aktivis dari Yogyakarta yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Berdaulat memberikan apresiasi kepada Fathul Wahid yang telah menyelesaikan tugasnya sebagai Rektor UII selama dua periode.
Apresiasi tersebut diwujudkan dalam bentuk aksi Pengukuhan Fathul Wahid sebagai Rektor Rakyat, yang digelar usai Pelantikan Rektor dan Wakil Rektor UII periode 2026 – 2030.
Salah satu inisiator Forum Cik Di Tiro, Masduki mengungkapkan pengukuhan Fathul sebagai Rektor Rakyat ini diputuskan berdasarkan Keputusan Mahkamah Rakyat Republik Indonesia No. 2 tentang Rektor Rakyat, yang diputuskan dalam Sidang Moral sejagat yang digelar di Pelataran Bumi Rakyat, pada 2 Juni 2026.
Mahkamah Rakyat Indonesia ini beranggotakan aliansi warga, mahasiswa, komunitas gampingan, kaum terpindah, serta seluruh jaringan advokasi Hak Asasi Manusia.
Pihaknya menilai, selama menjabat Rektor UII dua periode dari tahun 2018 – 2026, Fathul Wahid telah hadir sebagai benteng pelindung, penyedia ruang aman, serta memberikan legitimasi moral dan intelektual bagi perlawanan di tingkat akar rumput, terhadap kekuasaan dan negara yang menggunakan instrumen aparat serta hukum untuk menindas, meminggirkan, dan membungkam suara-suara warga yang memperjuangkan HAM.
Untuk itu, Aliansi Rakyat Berdaulat meminta agar Fathul Wahid tetap berada di barisan yang sama, dengan terus memegang komando aksi sehat, merawat kewarasan publik, dan menggaungkan kebenaran tanpa rasa takut.
Dalam aksi ini, Fathul menerima penyematan kain sarung dan sebuah caping bertuliskan “Rektor Rakyat” sebagai simbol mahkota pelindung yang akan menemani perjalanan perjuangannya di bawah terik matahari.
Menanggapi hal tersebut, Fathul Wahid menyampaikan rasa terima kasih atas penghormatan tersebut.
“Ini bagi saya adalah pagar moral sehingga saya tidak lagi bisa ke mana-mana. Tidak bisa lagi menjauhi masalah, dan mempunyai kesempatan untuk berkhianat kepada kewarasan bangsa, serta abai dengan masalah-masalah bangsa dan negara ini,” ucapnya. (Rep-01)







