“Jelang Pilpres, Masyarakat Muak Terhadap Politik Citra”

SLEMAN (kabarkota.com) – Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UGM, Faruk HT menilai telah terjadi politik citra yang berlebihan menjelang Pilpres 2014. Ini terlihat dari wacana yang berkembang luas dengan frekuensi yang relatif tinggi. Akibatnya, lambat laun masyarakat menjadi muak pada kecenderungan pencitraan tersebut.
Dijelaskan Faruk, akhir-akhir ini ada iklan yang yang menceritakan pemimpin yang merakyat dan giat bekerja tanpa peduli dengan penampilan, berani untuk terjun dan bahkan dalam kubangan lumpur. Genre ini, kata Frauk, menjadikan apa yang selama ini dianggap hina justru mulia dan bahkan berkuasa. 
Baca Juga:  Generasi Sekarang Butuh Cara Berbeda untuk Pahami Pancasila
"Kalau tak kotor tak pintar," terang dia dalam seminar Stuart Hall dan Perkembangan Culture Studies di Indonesia di Pascasarjana UGM Rabu (28/5).
Namun disisi lain, tambah Faruk, muncul pula capres yang menceritakan dirinya sebagai sosok yang bergerak makin jauh dari tanah, menceritakan diri seperti raja-raja zaman dulu, dengan naik kuda. Iklan kedua ini sebagai tragedi yakni sebuah pertunjukan yang bercerita mengenai manusia yang super yang mengatasi manusia biasa, para raja, pengeran atau bangsawan tinggi, yang berhadapan dengan persoalan-persoalan yang jauh dari persoalan makan dan minum belaka. 
Baca Juga:  Selamat Bertugas, Presiden Jokowi!
"Persoalannya adalah mental, spritual dan harga diri," ungkap Faruk.
Menurut Faruk, citra pada dasarnya berada di wilayah antara kenyataan dan gagasan. Pencitraan membuat batas antara gagasan dan kenyataan menjadi kabur, dan menjadi rentan terhadap penipuan dan persepsi yang menyesatkan. 
Disisi lain dia menilai budaya konsumen pun semakin merajalela di Indonesia. Konsumsi citra dan gaya hidup telah menguras habis, tidak hanya modal-modal ekonomi masyarakat, namun juga menumbuhkan keserakahan yang semakin besar.
Baca Juga:  Pemerintah pastikan percepatan pelayanan pertanahan
"Ini mendorong masyarakat melakukan korupsi dan adanya ketidakpedulian sosial yang tambah memprihatinkan," pungkas Faruk. (jid/rin)