Kapal “Othok-Othok”, Mainan Jadul yang tak pernah Absen di Arena Sekaten

Seorang penjual kapal "othok-othok" di arena Sekaten alun-alun utara Yogyakarta, Jumat (4/12). (Sutriyati/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Kapal “othok-othok”, mainan tradisional dari alumunium yang berbentuk kapal dengan bendera merah putih dan seorang nahkoda di dalamnya. saat ditaruh di atas baskom berisi air, kapal ini akan mengambang, lalu mulai bergerak memutar dan berbunyi “othok-othok”, setelah perapian yang dibuat dari kapas dicampur minyak goreng telah dinyalakan. Kapal akan berhenti berputar setelah memutar sekitar 5 menit, seiring matinya perapian.

Meski terbilang mainan jaman dulu alias jadul, tapi kapal “othok-othok” ini seolah tak lekang di telan masa. Itu salah satunya tampak dari eksistensi mainan satu ini di arena sekaten yang telah digelar selama bertahun-tahun. Termasuk, pada sekaten 2015 yang baru saja dibuka Jumat (4/12) atau hari ini.

Dari pantauan kabarkota.com, setidaknya ada tiga penjual kapal “othok-othok” yang turut memeriahkan “pesta rakyat” tahunan di Yogyakarta ini. Salah satu penjual dari Cirebon,  Awai mengaku, dirinya sering berkeliling ke beberapa daerah untuk menjajakan mainan tersebut.  Dengan harga Rp 10 ribu – Rp 20 ribu, ia berharap bisa menjual sedikitnya 2 kodi per hari.

“Pembelinya biasanya anak-anak kecil,” kata Awai saat ditemui kabarkota.com, di alun-alun utara Yogyakarta.

Bagi seorang pembeli, Respati, mainan tradisional yang satu ini tidak sekedar untuk menghibur anak-anak tetapi juga sebagai media edukasi, untuk mengenalkan putranya yang masih berusia 6 tahun tentang berbagai macam benda yang ada di sekitarnya. Ia juga menilai harga yang dibandrol untuk mainan tersebut juga sebanding dengan nilai dari karya pembuatnya.

Sementara Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti dalam sambutan Pembukaan Pekan Malam Perayaan Sekaten (PMPS) 2015 menyebutkan, 98 persen dari 843 stand yang disediakan telah terisi. Menurutnya, event tahunan yang rencana digelar selama 21 hari ini merupakan bentuk harmoni perayaan ekonomi dan budaya, sekaligus media pemberdayaan potensi daerah. (Rep-03/Ed-03)

Pos terkait