KPU Kota Yogya Gelar Simulasi Pemungutan Suara untuk Anak-anak Down Syndrome

down syndrome
Simulasi pemungutan suara Pemilu di SLB N Pembina Yogyakarta, pada Rabu (24/6/2026). (dok, kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Yogyakarta menggelar simulasi pemungutan suara Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina, pada Rabu (24/6/2026).

Ketua KPU Kota Yogyakarta, Noor Harsya Aryosamodro mengatakan, simulasi ini merupakan bagian dari Pendidikan Pemilih (Diklih) dan sosialisasi Pemilu kepada kelompok rentan, khususnya para penyandang disabilitas yang memiliki hak pilih pada 2029 mendatang.

Read More

“Hari ini kami memilih penyandang disabilitas yang spesifik, yakni down syndrome,” kata Harsya kepada wartawan di SLB N Pembina Yogyakarta, pada Rabu (24/6/2026).

kpu jogja
ketua KPU Kota Yogyakarta, Noor Harsya Aryosomodro. (dok kabarkota.com)

Harsya menjelaskan, kegiatan ini bertujuan agar para calon pemilih dari kelompok disabilitas ini mendapatkan bekal pengetahuan dan pengalaman dalam menggunakan hak pilihnya di TPS inklusif yang ramah difabel, sehingga mereka tertarik untuk memilih pada Pemilu 2029 mendatang.

Kegiatan ini, lanjut Harsya, sekaligus untuk pembuatan campaign iklan masyarakat tentang TPS inklusif yang ramah difabel supaya para penyelenggara Pemilu di ad hoc, seperti PPK, PPS, dan KPPS juga memiliki pengetahuan tentang itu.

Untuk peserta simulasi pemilihan suara di TPS ini, melibatkan sekitar 100 orang, yang terdiri atas 75 siswa SMP dan SMA di SLB tersebut, serta 25 orang lainnya adalah para guru dan alumni SLB.

Harsya menambahkan, pada Pilkada 2024 lalu, total pemilih difabel di Kota Yogyakarta sebanyak 2.460 pemilih. Dari jumlah tersebut sekitar 41 persen telah menggunakan hak pilihnya di TPS. Pihaknya menargetkan, pada Pilkada 2029 mendatang, setidaknya 45 persen pemilih difabel di Kota Yogyakarta dapat menggunakan hak pilihnya.

difabel
Simulasi pemungutan suara Pemilu di SLB N Pembina Yogyakarta, pada Rabu (24/6/2026). (dok. kabarkota.com)

Sementara itu, salah satu guru SLB N Pembina, Yayuk Sugiyati mengapresiasi kegiatan ini. Mengingat selama ini, sebagian besar anak-anak yang mengalami hambatan intelektual ini tidak mendapatkan pengetahuan yang cukup tentang Pemilu dan cara menggunakan hak pilihnya di TPS.

“Kalau pengetahuan seperti ini tidak diberikan, kami khawatir suara mereka akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab, pada waktunya mereka sudah memiliki hak suara nanti,” ucapnya.

Meskipun simulasi ini hanya melibatkan anak-anak SMP – SMA, sambung Yayuk, pihaknya juga elah memberikan semacam pendidikan yang sama kepada anak-anak usia TK – SD di SLB ini.

“Modelnya pun seperti halnya pemungkutan suara sesungguhnya, tapi untuk anak-anak itu, memilihnya dengan gambar-gambar makanan yang disukai, seperti es krim dan donat,” paparnya.

Sebelumnya, ungkap Yayuk, mereka juga menyaksikan video tentang cara pemungutan suara. (Rep-01)

Related posts