Pasar Tradisional, Hidup Segan Mati Tak Mau

Diskusi “Perlindungan Pasar Tradisonal” di kantor Dewan Perwakilan Daerah RI DIY, Sabtu (12/3/2016). (januardi/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com)- Kian pesatnya perkembangan toko atau ritel modern di DIY berdampak pada pasar atau toko tradisonal. Berdasarkan tinjauan Lembaga Ombudsman DIY sejak 2011, dari tahun ke tahun, kehadiran ritel modern membuat pasar tradisonal mengalami penurunan omzet.

“Seperti hidup segan, mati tak mau,” kata Hanum Aryani, Wakil Ketua Ombudsman bidang Pembinaan dan Pengembangan Sektor Swasta, dalam diskusi “Perlindungan Pasar Tradisonal” di kantor Dewan Perwakilan Daerah RI DIY, Sabtu (12/3/2016).

Baca Juga:  Perangko Edisi Khusus Gerhana Matahari Diserbu Pengunjung

Hanum menjelaskan, hal itu disebabkan tidak adanya model kemitraan yang baik antara ritel modern dan pasar tradisonal. Sehingga persaingan yang terjadi menjadi tidak sehat.

“Sepak terjang ritel modern ini kemudian tidak ada rasa empati atau pemberdayaan pada pasar tradisonal,” ujarnya.

Pengajar di Fisipol UGM, Henpri Suyatna mengungkapkan, saat ini jumlah ritel modern sudah mencapai angka 23 ribu di seluruh Indonesia. Pertumbuhan ritel modern di Indonesia menduduki peringkat pertama di ASEAN.

Baca Juga:  Catatan Peneliti Pustral UGM untuk Rencana Pembangunan Jogja Outer Ring Road

“Pertumbuhan ritel modern meningkat 31,4 persen. Sedangkan pasar atau toko tradisional mengalami minus 8,1 persen. Dengan MEA, peluang tumbuhnya ritel modern akan semakin besar,” tegas Henpri.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Haris Martopo dari Asosiasi Pengelola Pasar Tradisional Indonesia menuturkan, banyak image negatif tentang pasar tradisonal yang berkembang di masayarakat.

Antara lain, kualitas barang, kondisi dan manajemen pengelolaan pasar, keamanan, perilaku buruk pedagang, hingga properti yang belum memenuhi syarat.

“Survei AC Nielsen, perkembangan ritel modern itu 3 kali lipatnya pasar tradisonal. Hal ini disebabkan gaya hidup masyarakat,” katanya

Baca Juga:  Peluru Nyasar di Gedung DPR, Kabareskrim: Pelakunya Orang yang Sama

Kendati demikian, pasar atau toko tradisonal tetap memilki pelanggan yang loyal. Keberadaan pasar tradisional pun masih dianggap penting.

“Kita bisa lihat, masih banyak bapak ibu (politikus) kita yang ke pasar,” ucapnya.

Oleh sebab itu, pihak nya akan melakukan langkah-langkah strategis untuk mendongkrak perkembangan pasar tradisonal. Diantaranya melalui revitalisasi, manajemen yang baik, serta kebijakan yang memihak pada rakyat. (Ed-03)

Kontributor: Januardi