Sewindu Jejak Sociopreneurship Shuttle Wisata Si Thole

Ilutrasi (dok. kabarkota.com)

Kita di sini ada berapa? Satu!
Siapa kita? Si Thole!

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Yeld-yeld ini yang terdengar ketika para pengelola Shuttle Wisata Si Thole berkumpul memperingati hari jadi ke-8, pada 28 November 2022. Shuttle Wisata Si Thole merupakan kendaraan angkutan umum pengubung Kawasan Wisata Njeron Beteng yang dikelola oleh Forum Komunitas Kawasan Alun-alun Utara (FKKAU) Yogyakarta, sejak 28 November 2014 lalu.

Sesepuh FKKAU, M. Arri Rudiyantara mengungkapkan bahwa Shuttle Wisata Si Thole ini muncul dari tekad yang kuat, serta dilandasi dengan pilar yang tidak saja berorientasi pada profit atau keuntungan bisnis semata, melainkan juga mengedepankan asas kekeluargaan.

“Tidak ada namanya teman, tapi adanya adalah keluarga… Kalau ada permasalahan diselesaikan secara kekeluargaan sehingga bisa mencari rejeki bersama-sama,” tutur Arri.

Role Model Sociopreneurship untuk Pemberdayaan Masyarakat

Berbeda dengan angkutan publik yang digagas oleh pemerintah maupun Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Shuttle Wisata Si Thole lahir dari inisiatif FKKAU sebagai program pengalihan kerja bagi para pelaku wisata di Kawasan Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta yang terdampak revitalisasi awal, pada tahun 2012 silam. Sekaligus, solusi untuk penutupan jalur bus wisata di kawasan tersebut.

Awalnya, FKKAU mengoperasikan empat armada jenis minibus yang pengadaaanya secara swadaya dari FKKAU. Kemudian pada tahun 2018, baru mendapatkan support dari Pemkot Yogyakarta, dalam bentuk hibah lima unit shuttle baru yang bercat hijau.

Kepala Dishub Kota Yogyakarta, Agus Arif Nugroho. (dok. kabarkota.com)

Mantan Panewu Gondomanan Kota Yogyakarta, Agus Arif Nugroho yang turut terlibat dalam proses revitalisasi Kawasan Alun-alun Utara Yogyakarta berpendapat bahwa pola pemberdayaan yang diterapkan FKKAU dalam pengelolaan Shuttle Wisata Si Thole merupakan role model sociopreneurship yang mampu merevolusi mental Sumber Daya Manusia (SDM) dari berbagai latar belakang sosial menjadi tenaga kerja yang lebih profesional dalam memberikan pelayanan dalam bidang transportasi publik.

“Mereka dulunya tukang parkir, dan pekerja sektor informal di kawasan Alun-alun Utara yang kemudian mau belajar tentang attitude, tutur kata dan perilaku sebagai pelayan publik yang baik… Ini sebuah lompatan mental.,” ucap Agus kepada kabarkota.com, Selasa (29/11/2022).

Dari sisi keekonomian, lanjut Agus, mereka bisa mendapatkan penghasilan dari aktivitas usaha tersebut. Sekaligus menjadi salah satu penggerak wisata di Kota Yogyakarta.

Pria yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Yogyakarta itu berharap, FKKAU bisa lebih kreatif dalam membidik peluang-peluang, dan pasar yang ada di kota Yogyakarta sehingga bisa menjadi penyedia jasa layanan wisata yang lebih besar.

“Kami berharap, pengelola Shuttle Wisata Si Thole lebih kreatif, open minded, dan berpikir out of the box dalam melakukan pelayanan-pelayanan ke wisatawan. Misalnya dengan pola digitalisasi ataupun melebarkan jejaring kerjasama sebagai bentuk aktivitas usaha yang dilakukan masyarakat dan terpenting mampu menciptakan rasa aman, nyaman dan kepuasan bagi para wisatawan,” pintanya.

Lebih lanjut, Agus menilai, sociopreneurship seperti ini bisa menjadi bagian dari solusi penyediaan lapangan kerja yang timbul dari ide masyarakat sendiri.

“Mereka berangkat dari sebuah komunitas yang guyub, dan penuh rasa persaudaraan. Nilai-nilai itu yang menurut saya tidak bisa dikesampingkan dari proses sosial,” tegasnya.

Pengamat: Perlu Keselarasan antara Profit dan Misi Sosial

Pengamat Sosial UGM, Hempri Suyatna berpendapat bahwa pada dasarnya, wisausahawan dan komunitas-komunitas yang menjalankan bisnis dengan pendekatan sociopreneur yang berorientasi pada masalah-masalah sosial, berkembang cukup bagus.

“Peluangnya terbuka lebar, sebab masalah sosial pasti akan selalu ada sehingga ini menjadi potensi untuk pengembangan sociopreneur ke depan,” sebut Hempri.

Hanya saja, lanjut Hempri, tantangannya adalah menjaga keselarasan antara profit dan misi sosial serta sustainabilitas sociopreneur yang terkadang sulit.

“Dukungan permodalan seringkali juga menjadi hambatan,” tutur Dosen Fisipol UGM ini.

Selain itu, perlu upaya untuk mengubah mindset, utamanya mindset sociopreneur. Sebab, model bisnis sociopreneur berbeda dengan model bisnis kewirausahaan, pengembangan ekosistem kewirausahaan, maupun dukungan inkubator bisnis.

Cara FKKAU Menjawab Tantangan

Muhammad Fuad selaku Ketua FKKAU membenarkan bahwa shuttle wisata  ini awalnya merupakan bagian dari program pengalihan kerja yang menyerap 50 tenaga kerja yang dulunya bekerja sebagai tukang parkir dan pelaku pelaku ekonomi sektor informal yang terdampak proyek penataan ulang Kawasan Alun-alun Utara Yogyakarta.

“Kami membagi para pelaku ekonomi yang kehilangan pekerjaan dalam beberapa golongan. Di antaranya, anak muda yang memiliki kemampuan komunikasi bagus, kami berdayakan dengan membentuk sebuah unit usaha shuttle wisata ini. Mereka bergabung baik sebagai pemodal, manajeman, maupun bagian operasional, seperti sopir, ticketing, penjaga halte, dan pemandu wisata,” jelasnya.

Armada Shuttle Wisata Si Thole. (dok. kabarkota.com)

Namun pihaknya tida memungkiri bahwa di sisi lain, kehadiran shuttle wisata justru ancaman bagi para pelaku wisata lainnya maupun masyarakat sekitar Kawasan Njeron Beteng yang tidak beraktivitas ekonomi di Alun-alun Utara. Untuk itu, pihaknya pun melakukan berbagai upaya untuk menghilangkan ancaman tersebut.

Pertama, membangun komunikasi dengan pengelola TKP Ngabean dan TKP Senopati sehingga mereka mau memberikan sebagian tempatnya untuk halte shuttle. Pengelola shuttle juga berkolaborasi dengan paguyuban pengemudi becak di kedua TKP untuk pembagian wilayah penumpang.

Kedua, pengelola shuttle berkolaborasi dengan para pemandu wisata di Tamansari, dengan mengarahkan wisatawan yang berkunjung ke Tamansari agar menumpang shuttle untuk menuju Malioboro, Museum Sonobudoyo, dan Taman Pintar.

“Kami juga menjual tiket terusan ke penumpang yang include dengan tiket masuk objek wisata tersebut sehingga kedua belah pihak sama-sama mendapatkan keuntungan,” katanya.

Ketiga, pengelola shuttle mengoptimalkan pelayanan bagi wisatawan dengan membuat road map tempat-tempat wisata di Kawasan Njeron Beteng yang berisi informasi tentang tempat-tempat yang bisa dikunjungi, seperti tempat penginapan, dan toko oleh-oleh.

Keempat, pihaknya juga membangun sinergi dengan masyarakat sekitar yang tidak terlibat dalam aktivitas ekonomi supaya bisa ikut merasakan manfaat dari keberadaan shuttle wisata. Misalnya, ketika jumlah armada shuttle bertambah, maka penambahan karyawan diambil dari masyarakat sekitar yang dilalui jalur shuttle. Bahkan, pengelola shuttle tak jarang memberikan tumpangan gratis bagi anak-anak sekolah dan warga sekitar yang membutuhkan angkutan untuk suatu kegiatan.

“Keseimbangan ekosistem pariwisata di Kawasan Njeron Beteng, dan terjalinnya hubungan baik dengan warga sekitar inilah yang membuat eksistensi Shuttle Wisata Si Thole tetap terjaga hingga sewindu terakhir,” ucapnya lagi.

Namun demikian, FKKAU menyadari bahwa untuk menjaga eksistensi pengelolaan shuttle, maka perlu lebih banyak berinovasi dan menerapkan manajemen transportasi yang lebih baik di tengah persaingan jasa angkutan umum perkotaan lainnya.

Guna menjawab tantangan tersebut, maka pengelola Si Thole tidak hanya berhenti pada layanan shuttle wisata Kawasan Njeron Beteng saja. Melainkan juga akan melebarkan sayap usahanya dengan membuka toko-toko oleh-oleh, serta bisnis tour and travel untuk lebih meningkatkan pelayanan kepada wisatawan.

“Di tahun depan setidaknya ada dua inovasi itu,” ungkapnya.

Layanan Transportasi Gratis bagi Warga sekitar Alun-alun Utara

Salah satu bentuk layanan transportasi gratis bagi warga sekitar Alun-alun Utara diberikan FKKAU kepada Kelompok PAUD RW 12 Kauman yang pada Senin (28/11/2022) kemarin menumpang Shuttle Wisata Si Thole untuk keliling Njeron Beteng.

Rombongan PAUD RT 12 Kauman saat menumpang Shuttle Wisata Si Thole, pada 28 November 2022. (dok. kabarkota.com)

Salah seorang guru pendamping PAUD RW 12 Kauman, Innalis Zumroh menyebutkan, ada sekitar 20 anak PAUD bersama orang tuanya yang turut menumpang dua Shuttle Wisata Si Thole. Tujuannya, untuk mengenalkan anak-anak para transportasi publik sekaligus lingkungan sekitar Njeron Beteng.

Innalis menilai, kehadiran transportasi publik di tengah kota, seperti Shuttle Wisata Si Thole ini sangat penting bagi masyarakat dan wisatawan. “Si Thole ini kan beda dengan mobil-mobil yang lain,” ujarnya.

Sebagai masyarakat, ia berharap, ke depan, pelayanan Shuttle Wisata Si Thole semakin baik. Termasuk dalam mempromosikan kepada wisatawan. Bahkan jika memungkinkan, penambahan fasilitas di dalam mobil, seperti TV dan sound system untuk menyajikan hiburan bagi para penumpang, serta pemandu wisata sehingga bisa menjelaskan tentang sejarah objek-objek wisata di Kawasan Njeron Beteng. (Rep-01)

Pos terkait