Nasib 211 Juru Parkir Terancam Relokasi Parkir Malioboro

aksi bersih-bersih kawasan Malioboro sebagai bentuk protes kepada UPT, Minggu (28/2/2016). (Januardi/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Kebijakan pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta merelokasi parkiran di sepanjang jalan Malioboro ke tempat parkir portabel Abu Bakar Ali mendapat protes dari mahasiswa dan Paguyuban Parkir Malioboro Ahmad Yani (PPMAY). Pasalnya, kebijakan tersebut tidak diikuti dengan kejelasan nasib 211 juru parkir (Jukir) yang selama ini mencari nafkah di wilayah parkir yang rencananya akan dikosongkan.

Ketua PPMAY Sigit Karsana Putra, kepada kabarkota mengatakan, selama ini belum terjalin komunikasi yang maksimal antara Unit Pelaksana Tugas (UPT) dengan Jukir.

Baca Juga:  Penjelasan RSI Hidayatullah Yogya tentang Penutupan Layanan Pasien BPJS

“Kami dua kali walk out dalam pertemuan. Karena kita tidak setuju dengan konsep yang mereka tawarkan,” kata Sigit, di sela-sela aksi bersih-bersih kawasan Malioboro sebagai bentuk protes kepada UPT, Minggu (28/2/2016).

Konsep yang ditawarkan oleh UPT adalah pemberian kompensasi sebesar Rp 40.000 per hari kepada 98 Jukir yang terdata. Sementara ada 211 Jukir di kawasan Malioboro yang tergabung dalam PPMAY.

Baca Juga:  Berstatus Tersangka, Bowo "Gaplek" Bakal Dilantik Sebagai Anggota Dewan

“Alasan tidak mendata 113 orang lainnya karena mereka hanya pembantu parkir. Tidak punya surat. Kita tidak mau begitu. Kami tidak mau ada yang tercecer,” ujar Sigit.

Selain itu, Sigit menuturkan, UPT juga belum jelas dalam pembagian wilayah parkir di portabel Abu Bakar Ali. Hal tersebut berpotensi menimbulkan konflik antar Jukir, karena akan berebutan tempat strategis untuk wilayah parkiran.

Badan Eksekutif Mahasiwa Universitas Gadjah Mada yang juga turut dalam aksi bersih-bersih menyayangkan dampak dari relokasi parkir tersebut.

Baca Juga:  Membangun Kekuatan Kelas Pekerja

Presiden Mahasiwa UGM, Mohammad Ali Zainal menegaskan, pihaknya sangat mendukung kebijakan pemerintah yang merelokasi parkiran dengan tujuan penataan wilayah Malioboro. Namun ia keberatan dengan solusi yang ditawarkan UPT terhadap Jukir yang terkena dampak.

“Nasib mereka tidak jelas. Selama ini mereka tidak dilibatkan. Hanya dilibatkan dalam sosialisasi,” kata Ali kepada kabarkota.

Ali menambahkan, pentingnya usaha memperjuangkan nasib Jukir karena mereka juga memiliki tanggungjawab nafkah keluarga yang harus dipenuhi. (Ed-03)

Kontributor: Januardi