Kapan Kecemasan bisa Membantu dan Menghambat Kita?

buku
Buku Saku "Pengelolaan Kecemasan Akademik dan Peguatan Pengambilan Keputusan" (dok. istimewa)

Penulis: Bunga Sakinah, S.Psi., M.A.

Sebagai siswa kelas 10 yang baru saja memasuki jenjang SMA, wajar jika merasakan perbedaan beban akademik dibanding jenjang pendidikan sebelumnya. Keresahan akan tugas-tugas yang menggunung dan pilihan karier yang sudah harus mulai ditentukan, dapat membuat seseorang merasakan cemas berlebih.

Read More

Tetapi, kapankah kecemasan ini bisa membantu atau menghambat kita?

Kita perlu memahami bahwa tidak semua kecemasan berdampak buruk. Dalam kadar yang wajar, kecemasan justru dapat membantu kita. Contohnya, ketika sebelum ujian atau sebelum kompetisi, kita dapat terdorong untuk belajar lebih giat dengan adanya sedikit rasa cemas. Jika tanpa rasa cemas, mungkin kita malah tidak akan terdorong untuk belajar dan malah justru gagal ketika ujian.

Selain itu, ketika kita perlu mengambil keputusan penting, rasa cemas tersebut dapat membantu kita mempertimbangkan berbagai kemungkinan sebelum bertindak. Dalam hal ini, rasa cemas bisa mencegah kita melakukan hal impulsif dalam mengambil keputusan. Dalam situasi seperti ini, kecemasan berfungsi sebagai motivasi untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik.

Namun, kecemasan dapat menjadi masalah ketika intensitasnya terlalu tinggi atau berlangsung terlalu lama. Seringkali kita jadi merasa stuck ketika dihadapkan dengan situasi yang membuat cemas.

Beberapa tanda bahwa kecemasan mulai mengganggu antara lain:

  • Sulit berkonsentrasi saat belajar
  • Menghindari kegiatan yang sebenarnya penting
  • Sulit mengambil keputusan
  • Terus-menerus memikirkan kemungkinan terburuk
  • Mengganggu tidur atau aktivitas sehari-hari

Misalnya, merasakan gugup sebelum presentasi adalah hal yang normal. Namun, jika seseorang sampai tidak masuk sekolah karena takut presentasi, kecemasan tersebut sudah mulai menghambat aktivitasnya. (Adv)

Related posts