Dituding terkait Fethullah Gulen, ini sikap yayasan kesatuan bangsa Yogyakarta

Jumpa pers Sekolah Kesatuan Bangsa Yogyakarta, Selasa (2/8/2016). (sutriyati/kabarkot.com)

BANTUL (kabarkota.com) – Yayasan Kesatuan Bangsa Mendiri yang menaungi Kesatuan Bangsa Bilingual Boarding School Yogyakarta memastikan, tak akan menempuh upaya hukum pasca dituding Pemerintah Turki sebagai lembaga pendidikan yang berkaitan dengan Fethullah Gulen, ulama Islam yang disebut-sebut terkait dalam kudeta di Negaranya, baru-baru ini.

Ketua Yayasan, Gatot Nugroho menilai, penegasan dari Pemerintah Indonesia yang tak akan menghiraukan permintaan Negara Turki untuk menutup sembilan sekolah yang dituding sama, sudah cukup jelas.

Baca Juga:  Pembubaran HTI, Kebijakan Prematur?

“Dari Yayasan tidak akan ada upaya hukum apapun,” kata Gatot kepada wartawan di Sekolah Kesatuan Bangsa Yogyakarta, Selasa (2/8/2016).

Pihaknya menjelaskan bahwa sejak lima tahun berdiri, sekolah Kesatuan Bangsa telah mendidik anak-anak dengan metode pendidikan boarding school dan mencetak anak-anak yang berprestasi, baik di tingkat nasional, regional, maupun internasional.

Sampai dengan sekarang Kesatuan Bangsa Bilingual Boarding School Yogyakarta sedikitnya telah menyabet 84 penghargaan tingkat nasional, 105 penghargaan regional, dan 21 penghargaan kelas dunia, melalui berbagai kegiatan olympiade siswa.

Baca Juga:  MWA UGM Tetap Dwikorita Karnawati Menjadi Rektor UGM

Sementara, Kepala Sekolah Kesatuan Bangsa, Ahmad Nurani menambahkan, saat ini ada dua guru asal Turki dan seorang guru dari Amerika Serikat yang menjadi tenaga pengajar di sekolah bertaraf internasional tersebut.

Menurutnya, para guru dari Turki mengagumi Fethullah Gulen sebagai inspirator, namun tidak meyakini adanya kegiatan-kegiatan yang mengarah ke kudeta. “Belum ada bukti keterlibatan langsung dari guru-guru di sini,” tegasnya.

Bahkan, lanjut Ahmad, selama ini tidak pernah ada pembicaraan soal politik dan mereka juga tidak membenci pemerintah Turki.

Baca Juga:  Warga Yogya Gelar Bike to Remember Menolak Kadaluwarsa Kasus Udin

Sementara Zuhro, salah satu alumnus yang kini juga menjadi pembina sekolah Kesatuan Bangsa juga mengaku, tidak pernah ada ajaran tentang terorisme selama dirinya menempuh pendidikan selama tiga tahun. (Rep-03/Ed-03)