Kemenaker akan Tarik 16.500 Pekerja Anak

Ilustrasi (citizendaily.net)

JAKARTA (kabarkota.com) – Pada tahun 2016 ini, Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) akan menarik 16.500 tenaga kerja ana, guna mendukung program Keluarga Harapan (PKH) yang diselenggarakan di 24 Provinsi dan 138 Kabupaten/kota.

Menteri Tenaga Kerja (Menaker), Hanif Dakiri menjelaskan, ribuan pekerja anak yang ditarik itu akan menjalani program pendampingan khusus selama empat bulan. “Seusai pendampingan mereka akan kembali disekolahkan untuk belajar di bangku sekolah seperti SD, SMP, SMA, madrasah dan pesantren ataupun kelompok belajar paket A, B, dan C,” katanya seperti dilansir laman Setkab, Rabu (15/6/2016).

Baca Juga:  Kontras: Konflik GAM dan Pemerintah Indonesia Belum Tuntas Hingga Kini

Guna mengoptimalkan penarikan pekerja anak ini, pihaknya juga menggandeng berbagai pihak, seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Sosial, Kementerian Agama, pemerintah provinsi/kabupaten/kota, LSM, ILO, Serikat Pekerja atau Serikat Buruh, dan asosiasi pengusaha.

Mengingat, Menurut Menaker, selama ini pemerintah telah melakukan pendekatan khusus untuk melarang anak usia sekolah untuk bekerja, namun hal itu tidak mudah.

Meski begitu, lanjut Menaker, pihaknya akan terus menerus melakukan pendekatan khusus berupa sosialisasi, persuasif hingga penindakan hukum yang tegas.  

Baca Juga:  10 Tahun terakhir, 5 Juta Petani Tinggalkan Lahan

“Apabila terjadi pelanggaran ketentuan pekerja anak, silakan segera melaporkannya ke dinas-dinas tenaga kerja setempat, Kemnaker ataupun kepada pihak kepolisan terdekat untuk ditindaklanjuti. Pelanggaran aturan pekerja anak ini harus dihentikan,” pintanya.

Berdasarkan data humas Kemenaker, sejak  2008 sampai 2015, sebanyak 63.663 pekerja anak dan dikembalikan ke satuan pendidikan. Rinciannya, 2008 sebanyak 4.853 orang. 2009 tidak ada kegiatan, 2010 sebanyak 3.000 orang, 2011 sebanyak 3.060 orang, 2012 sebanyak 10.750 orang dan 2013 sebanyak 11.000 orang, 2014 sebanyak 15.000, dan 2015 sebanyak 16.000.

Baca Juga:  ARB Siap Dicalonkan Kembali sebagai Ketum Golkar

Menaker mencanangkan bulan Juni ini sebagai bulan Kampanye Menentang Pekerja Anak. Program ini memiliki  sasaran utama anak bekerja dan putus sekolah yang berasal Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) dan berusia 7-15 tahun.

Dengan progam ini diharapkan dapat mencegah anak-anak terutama dari pekerjaan terburuk dan berbahaya seperti perbudakan, pelacuran, pornografi, perjudian, dan keterlibatan narkoba. Melalui program ini,  Menaker menargetkan Indonesia akan menjadi Negara bebas pekerja anak pada tahun 2022. (Rep-03/Ed-03)