Menjaga Semangat Kebangsaan (1)

Oleh: Iwan Satriawan, S.H., MCL., Ph.D (Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

Kasus Ahok seolah menguji banyak hal di jagad negara majemuk ini. Minimal Ahok dituduh telah melakukan 2 hal, yaitu menista agama dan .melecehkan ulama. Tulisan ini tidak mengomentari pernyataan Ahok dr sisi hukum agama tapi lebih kepada kajian ketatanegaraan yang ringan-ringan saja.

UUD 1945 adalah konstitusi yg religius karena di pembukaannya disebutkan bahwa kemerdekaan bangsa ini diraih karena berkah dari Allah yang Maha Kuasa. Pasal 29 juga menegaskan bahwa negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan Ketuhanan dan memberikan jaminan kemerdekaan pemeluknya untuk melaksanakan keyakinannya. Oleh karena itulah warga negara, apalagi pemimpinnya, harus memahami karakter jiwa bangsa ini. Bahkan Soekarno mengatakan sila ketuhahan itu menjiwai sila-sila yang lainnya.

Baca Juga:  Warga Muara Angke Ingin Bertemu Ahok, Ini Curhatnya

Ahok sepertinya tidak sensitif dengan jiwa bangsa yang sudah disepakati oleh para pendiri bangsa ini, sehingga ia cenderung menyederhanakan soal-soal keagamaan seperti ini. Terbukti ia tidak sekali melontarkan pernyataan yang menjadi heboh saat ini. Memang tentang niatnya tidak mudah dibuktikan. Orang akan berbeda pendapat tentang niat itu. Secara semantik juga bisa diperdebatkan. Tapi survei LSI yang dilansir beberapa hari lalu membuktikan bahwa secara common sense, Ahok dianggap bersalah dalam hal itu.

Baca Juga:  Riset Membangun Insan Berkarakter

Jika negara itu berdasarkan ketuhanan, sudah tentu kalimat Tuhan tidak boleh dipermainkan sedemikian karena ia akan menyulut reaksi. Taste orang tentu akan berbeda dalam meresponnya dan terbukti banyak yang berkeberatan dengan statemen yang meremehkan kitab agama secara demikian. Setidaknya irulah yang ditangkap oleh orang kebanyakan. Oleh karena itu Ahok perlu sensitif dengan apa yang dipikirkan orang, bukan memaksa orang lain memahaminya. Pemimpin itu memahami dulu masyarakatnya baru minta orang lain memahami pikirannya.

Baca Juga:  Pembelahan Sosial Pengaruhi Politik Elektoral dalam Pilkada?

Pelajaran berharga pertama dari kasus Ahok adalah jika mau menjadi pemimpin di Indonesia, maka pahamilah jiwa konstitusi Indonesia dengan baik. Konsitusi kita bukan berdasar agama tertentu, tapi bukan juga konstitusi sekuler. Konstitusi kita adalah konstitusi religius. Mempermainkan ayat-ayat Tuhan terbukti sudah banyak makan korban. Salam Indonesia Bersatu!

(Facebook Iwan Satriawan)